Thursday, June 21, 2012

Anti Kompetisi dalam Parkour

Para member dari komunitas Parkour berdiri tegas melawan ide kompetisi parkour yang terorganisir.

Alasan kami:

Kami tidak percaya akan adanya kelas elit.
Kami tidak percaya akan adanya seleksi special di antara para traceur.
Kami tidak percaya bahwa parkour membutuhkan hirarki atau perbedaan level-level kemampuan setiap traceur.
Kami percaya bahwa untuk menjadi “yang terbaik atau terkenal” itu tidak ada artinya di Parkour, karena kemenangan atau kekalahan itu tidak berarti apa-apa di dalam filosofi parkour.
Kami tidak menerima elemen-elemen pendorong seperti demikian di dalam filosofi parkour.

Kami percaya motivasi untuk latihan [parkour] selalu harus datang dari dalam hati seorang.
Kita bekerja keras untuk menjadi lebih kuat untuk diri kita dan orang lain, bukan untuk berkompetisi melawan orang lain, melainkan berlatih bersama dan membantu orang lain.
Karena itu kami menolak dan tidak memperdulikan segala jenis persaingan di antara sesama traceur atau sesama manusia lain. Kami menghargai hormat mutual dan solidaritas untuk terus berkembang sebagai individu dan sebagai komunitas.

Kami percaya bahwa akan tidak sesuai dengan philoshopy parkour untuk berkompetisi dan memenangkan hal-hal yang bukan bagian dari nilai-nilai moral dalam parkour. Hal-hal seperti medali, hadiah-hadiah, ranking, piala, uang, popularitas, penghargaan, atau glory. Termasuk hal seperti cari-cari perhatian orang [hanya untuk menunjukkkan bahwa anda punya kehebatan].

Daripada itu, kami lebih mencari hasil dari apa yang kami lakukan. Hasil yang tak ternilai dan bermanfaat. Kami juga mencari manfaat-manfaat dari Parkour yang bisa kami bagikan.
Kami adalah pemberi bukan penerima [pengambil].

Kompetisi mendorong orang-orang yang belum siap untuk mengorbankan kesehatan mereka untuk kemenangan cepat atau untuk mendapatkan ranking yang tak berarti. Kompetisi mendorong yang elit [pro] untuk terus menerus dan berulang-ulang membahayakan kesehatan mereka yang berharga, hanya karena obsesi dan obligasi untuk menang, dan hal-hal lain yang akan mengancam mereka bila mereka kalah, seperti kehilangan uang, ranking, status, kesombongan [kebanggaan], dan kontrak-kontrak profesional sponsor serta deal-deal komersil.

Kompetisi hanya akan membawa traceur kepada latihan-latihan yang tidak seimbang hanya berfokus kepada gerakan-gerakan yang dibutuhkan untuk menang. Ini akan mendatangkan injuri-injuri kronis.

Walaupun wewenang olahraga resmi menyangkalnya, pengunaan obat-obatan [doping] seringkali terlibat di level-level kompetisi, entah apakah mereka disuap atau tidak. Kami percaya bahwa akibat-akibat dari kompetisi level tingi itu sangat tidak sesuai dengan filosofi parkour yang menekankan untuk berlatih tak berlebihan [moderation] dan kebutuhan untuk hidup sehat yang tahan lama [enduring].

Parkour itu rendah hati, sabar dan seni-disiplin [cara hidup] yang berlangsung untuk seumur hidup. Dan tubuh manusia membutuhkan conditioning [latihan/workout] terus menerus untuk memastikan kekuatan dan katahanan lamanya.

Moderation [tak berlebihan] adalah salah satu nilai atau moral dalam parkour yang penting. Sebuah kualitas yang tidak bisa diacuhkan untuk merawat tubuh dan supaya bisa endure [tahan lama]. Karena itu, kami menolak segala hal yang tak sesuai dengan moderasi, hal-hal yang merusak tubuh.

Parkour tidaklah dimiliki oleh korporasi-korporasi, sponsor-sponsor, media dan orang-orang yang hanya mau menonton dari rumah.

Kami percaya bahwa kami tidak akan menerima aktifitas-aktifitas dan rencana-rencana yang akan menyalahgunakan parkour, mengotori nama, merusak gambaran tentang parkour hanya untuk menarik perhatian masyarakat dan media kepada sesuatu yang BUKAN lagi parkour, dengan perlawanan dari majoritas komunitas ini terhadap intensi-intensi tersebut.

Dengan itu, kami menegaskan bahwa parkour itu adalah seni-disiplin NON-kompetisi yang dipunya oleh semua practitionernya, komunitas-komunitas lokal, teman-teman, dan semua manusia secara keseluruhan.

Kita percaya bahwa kita harus berdiri bersama melawan ambisi-ambisi yang tidak memantulkan philosophy parkour yang original, hal-hal yang tidak sopan ke philosophy parkour dan komunitas parkour.

Kompetisi bukanlah sesuatu yang tak bisa dihindari. Kompetisi hanyalah satu lagi rintangan! Support parkour original, jagalah kebebasan seni-disiplin yang kita punyai!

article ditulis oleh: Hebertiste [Erwan Le Corre] dan TK17 aka EnderWiggin [Duncan Germain]
Penerjemah : Emon (Edmund Solaiman)
Edit Bahasa : Bullseye (Fadli)

SOURCE : PKID
Read More ..

Friday, May 18, 2012

Me And Parkour

Ini sebuah cerita Parkour pribadi saya. Sekitar 7 tahun lalu saya bersama teman SMP mulai mengenal seni gerak Parkour dari film Yamakasi yang sering kita tonton. Tak sadar untuk mulai menyukai lalu mencoba meniru gerak loncat ga jelas karna kita ga tahu cara latihannya. Lalu jenuh pun melanda hingga lulus SMA karna ga ada yang bimbing kami dan saya pun saya ga tau olahraga apa itu ??. 3 tahun berlalu melewati masa sekolah saya terdiam hingga teman saya mulai tau kalo itu adalah olahraga Parkour. ga lama kemudian kami memulai search info tentang parkour (saya,Ata dan Ichwan) dan Untuk pertama kalinya kami membuka grup yang bernama Parkour Sukabumi, grup tersebut kami buka untuk menemukan para peminat Parkour khususnya di Sukabumi untuk saling berbagi ilmu, karna sebenarnya kami yang mencari ilmu. Ga lama waktu berselang saya akhirnya dapat kontekan di grup bahwa ada grup Parkour Sukabumi yangg lebih awal dari kami dan ternyata itu grupnya Bang Alex. Obrol punya obrol, usut punya usut kita ngobrol dan berusut ampe kusut ternyata beliau lebih faham tentang Parkour. Kita dulu hanya mengandalkan pesan karena belum sempat ketemu (saya hijrah ke Bandung), akhirnya Ata dulu yangg pertama kopi darat sama Bang Alex. Tragedi tersebut terjadi sekitar tahun 2009'an.Akhirnya Ata berlatih duluan bersama Bang Alex. 2010 Pun saya pulang kembali ke Sukabumi ga lama langsung meluncurkan serangan SNC pertama dengan Bang Alex di medan tempur Secapa Polri, dan pada saat itu hanya saya, Mayor Alex, Letnan Indra sama Jendral Ramadhan Aditya. Disana kita berempat SNC dan sebenarnya Rama sama Indra lebih dulu latihan dari pada saya. Pertumpahan darah pun tak terelakan (padahal porsi SNC sedikit, maklum newbie nyaho meureun) Itu adalah hari minggu pertama saya berlatih parkour secara jelas, tajam dan terpercaya. Satu minggu pun berlalu aih-aih ga sabar pengen latihan bareng lagi ternyata Bang Alex sama Rama ga bisa dateng,jadi hanya Indra dan Saya. Di latihan kedua Saya ditunjuk langsung untuk bimbing yang lain(aduh siah) dan disana muncul Shinobi dari Netrisi yaitu Ninja Eka dan Ninja Andri, Saya sebenernya kebingungan mau ngajarin apa ke mereka, berdo'a dan pasrah saya dan Indra pun akhirnya bimbing Eka dan Andri sesuai dari ilmu yang Bang Alex kasih minggu lalu. To Be Continue ...
Read More ..

Thursday, August 25, 2011

Tiga Nama Satu Akar

Melihat banyaknya terjadi argumen di sana sini mengenai berbagai disiplin dari seni bergerak asal Perancis yang kami yakini ini, maka saya mencoba untuk ambil bagian dalam argumen tersebut namun melalui pendekatan yang berbeda. Di sini saya akan mengungkapkan tentang tiga nama metode disiplin yang lahir dari hasil kreasi para pendahulu dari masing-masing disiplin tersebut. Apalagi setelah saya membaca beberapa pemikiran dari mereka yang merasa lebih bangga dengan masing-masing disiplin yang mereka pelajari.

Yang saya maksud dari tiga nama tersebut adalah Art Du Deplacement, Parkour dan Free Running. Masing-masing disiplin ini menuntut sebuah ketekunan kerja keras serta pemahaman yang baik dari masing-masing individu yang menjalaninya. Untuk itulah, saya menulis note ini untuk membuka sedikit tentang tiga disiplin yang “serupa namun tak sama” ini ke dalam sebuah wacana, sehingga semua praktisi mampu mengisi kepada orang lain dan mnyebarkannya kepada orang lain lagi. Okey kita mulai satu per satu.

Art Du Deplacement
Art Du Deplacement ini bisa dikatakan sebagai seni berpindah tempat atau seni bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan obstacles yang berada di lingkungan dengan memanfaatkan fisik dan teknik yang menerapkan semua kemungkinan menjadi suatu rangkaian, yang bertujuan untuk menciptakan gerakan keografi yang cantik dan spektakular di lingkungan urban maupun alami. Art Du Deplacement dikembangkan oleh original member dari Yamakasi yang terdiri dari sembilan orang pada awal permulaannya. Walaupun akhirnya grup ini terpecah, namun beberapa member yang tersisa seperti Laurent Pitermossi, Yann Hnautra, Chau Belle Dinh serta William Belle terus mengembangkan Art Du Placement dengan definisi dan prinsipnya tersendiri di bawah label Majestic Force. Beberapa team lain pun muncul dari seni yang berharga ini antara lain seperti Adrenaline, TCT, Dvinsk Clan, SW crew dan lain-lain.

Parkour
Parkour merupakan sebuah disiplin yang diterapkan oleh David Belle setelah meninggalkan Yamakasi. Ia menerapkan Parkour sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh ayahnya Raymon Belle mengenai pelatihan halang rintang militer untuk bergerak cepat melewati obstacles di semua lingkungan dengan gerakan yang efektif dan efisien. Parkour ditujukan untuk beradaptasi melewati rute dengan memanfaatkan kekuatan fisik dengan gerakan yang cepat tanpa kehilangan banyak energi untuk sampai tujuan. Semua gerakan parkour ditujukan agar seseorang dapat mencapai tujuan atau dapat digunakan dalam keadaan terjepit untuk melarikan diri dari kejadian tidak terduga. Parkour merupakan disiplin yang paling populer, karena prinsip moderasi atau kesederhanaan yang diterapkan oleh David Belle ke setiap sanubari praktisinya di seluruh dunia.

Free Running
Free Running adalah sebuah evolusi dari cara bergerak dan disiplin yang telah ada. Free Running merupakan kebebasan untuk seseorang bergerak dengan gerakan yang indah dan menarik sebagai bentuk kebebasan berekpresi dari setiap praktisinya. Disiplin ini dikembangkan oleh Sebastian Foucan, sahabat kecil dari David Belle sekaligus salah satu pendiri dari Yamakasi. Sebastian memasukkan unsur filosofi yang menarik dari Free Running ini yang bersifat lebih personal dibandingkan dua disiplin lainnya.

Awal Mula

Semuanya bermula dari sebuah konsep Methode Naturalle karya Georges Hebert. Methode Naturalle adalah cikal bakal dari ketiga disiplin tersebut yang diciptakan oleh Georges Hebert sebelum perang dunia pertama. Georges Hebert adalah seorang petugas angkatan laut yang suka berkelana ke seluruh bagian dunia. Saat kunjungannya ke benua Afrika, ia terkesan dengan sebuah suku primitif yang memiliki fisik serta skills yang tinggi. Mereka memiliki tubuh yang kuat, flexible, energik, dan memiliki daya tahan yang tinggi padahal mereka tidak memiliki tutor gymnastic. Akhirnya Hebert menyadari, bahwa yang membuat mereka kuat bukanlah karena mereka latihan gymnastic, melainkan karena lingkungan tempat tinggal mereka itu sendiri.

Terinspirasi dari suku tersebut, Hebert menciptakan sebuah latihan yang diberi nama Methode Naturalle sebagai metode bergerak secara alami di lingkungan sekitar. Methode Naturalle dikenal dengan moto ‘etre fort pour etre utile’ atau ‘menjadi kuat dan berguna’ dengan tujuan mulia untuk membantu diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan kekuatan dari hasil latihannya.

Latihan ini meliputi sepuluh gerakan dasar yaitu walking, running, jumping, quadrupedal movement, climbing, balancing, throwing, lifting, self-defense, swimming. Konsep inilah yang akhirnya digunakan untuk pelatihan militer tentara Perancis di perang dunia kedua. Sampai saat ini, Methode Naturalle juga dipakai dalam pelatihan militer dan pemadam kebakaran di Perancis.

Salah satu yang mendalaminya adalah Raymond Belle, seorang tentara Perancis yang akhirnya bergabung dengan sapeurs-pompiers ( pemadam kebakaran militer). Raymond memperkenalkan pada anaknya (David Belle) tentang methode naturalle dan latihan halang rintang militer. Bersama sahabatnya Sebastian Foucan, mereka berlatih dan bermain bersama di usia 16 tahun. Pada waktu itu, mereka berdua bertemu dengan para remaja seusia mereka yang tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Bersama-sama, mereka berlatih dan mengembangkan fisik dan teknik latihan mereka sehingga menjadi sebuah disiplin yang saat itu dikenal dengan nama “Art Du Deplacement”. Mereka terdiri dari David Belle, Sébastien Foucan, Laurent Pitermossi, Yann Hnautra, Charles Perrière, Malik Diouf, Guylain N’Guba-Boyeke, Châu Belle-Dinh, dan Williams Belle.

Pada tahun 1997, mereka akhirnya melanjutkan Art Du Deplacement yang mereka latih dengan menamakan grup mereka dengan sebutan Yamakasi. Awalnya mereka mencari kata-kata yang baik untuk menamakan grup mereka. Mereka menginginkan kata-kata Strong Man atau Strong Body namun sangat susah dan tidak nyaman bila diucapkan, khususnya dalam bahasa Perancis. Disinilah Guylain (yang menjadi Rocket di film Yamakasi) menyebutkan kata “Yamakasi” yang berasal dari bahasa Lingala (salah satu bahasa Congo, Afrika) yang memiliki arti Strong Spirit, Strong Body, Strong Man. Akhirnya mereka memulai menamakan grup mereka dengan sebutan Yamakasi.

Tahun 1998, Yamakasi unjuk gigi dengan menampilkan aksi mereka di film pendek berjudul “Le Message” yang menampilkan seni dan olahraga yang mereka lakukan. Namun setelah penampilan mereka di acara musik “Notre Dame de Paris”, David dan Sebastian mengundurkan diri dari Yamakasi karena hak pendapatan dan perbedaan pendapat dan definisi dari Art Du Deplacement tersebut. Sehingga saat film “Yamakasi” yang muncul pada tahun 2001 terus berjalan tanpa kehadiran mereka berdua.

David akhirnya menamakan seni disiplin yang dimilikinya dengan nama “Parkour”. Nama tersebut ditemukan oleh David Belle dengan temannya yang bernama Hubert Koundé. Kata Parkour itu sendiri dari kata “parcours du combattant” yang berarti pelatihan halang rintang militer yang sempat digagas Georges Hébert. Kata Parcours “c” diganti menjadi “k” dan “s”nya dipakai untuk menjelaskan filosofi Parkour itu sendiri. “Parkour’s philosophy about efficiency” . Sedangkan istilah Traceur adalah sebuah sebutan untuk para praktisi Parkour. Seseorang bisa dikatakan traceur jika orang tersebut sudah memahami arti, basic, dan filosofi dari Parkour itu sendiri. Traceur berasal dari kata “tracer” yang berarti cepat, mempercepat (to trace/ to go fast).

David dan Sebastien terus mengembangkan parkour dengan memunculkan beberapa praktisi lain yang akhirnya menjadi team, seperti Stephane Virgoux, Johann Virgoux, Sebastien Goudot, Jerome Ben Roues, Kazuma, Michael Ramdan, Rudy Cuong dengan nama “La Releve”. Team inilah yang mengembangkan parkour yang semula di Lisses yang dikenal sebagai Original Crew atau Original Traceur. Aksi mereka bisa dilihat dalam beberapa video di youtube.

Untuk memudahkan Parkour dalam bahasa yang lebih umum atau bahasa Inggris, maka Parkour juga biasa diartikan dengan sebutan Free Running. Namun di tahun 2001, perbedaan pandangan antara David Belle dan Sebastian Foucan mengenai prinsip yang harus ditanam dari displin Parkour mulai terlihat. Sehingga akhirnya Sebastian dan beberapa Original Traceur memutuskan untuk memisahkan diri mereka dari dunia disiplin Parkour.

Sebastian Foucan akhirnya menamakan disiplin yang ia bawa dengan sebutan “Free Running”. Sebastian menciptakan kosep dan kepercayaan “Follow Your Way” yang mengedepankan kebebasan bergerak dan kebebasan berekspresi. Konsep Free Running kemudian mulai mewabah daerah Inggris dengan muncul video dokumenter “Jump London” yang menampilkan Sebastian Foucan, Johann Virgoux, serta Jerome Ben Roues. Free running mengedepankan “freedom of movement” yang menampilkan gerakan-gerakan yang indah dan menarik dengan konsep kesenangan pribadi.

Free Running mungkin terlihat lebih personal dibandingkan dua disiplin lainnya. Sebastian menanamkan filosofi yang luar biasa di dalam Free Running bagi mereka yang mencintai kebebasan bergerak untuk mengembangkan dan membebaskan intuisi serta kreatifitas mereka. Free Running berdiri tanpa ada team serta leader, berdiri sebagai satu komunitas Free Running. Dengan prinsip seperti itu, maka Sebastian Foucan didaulat menjadi duta dari komunitas Free Running di seluruh dunia.

>Serupa Tapi Tak sama
Ketiga disiplin ini memang terlihat sama, namun memiliki nilai dan tujuan yang berbeda. Seperti yang dikatakan Laurent Pitermossi dari Majestic Force “parkour, l’art du deplacement, freerunning, the art of movement (seni bergerak)… semuanya merupakan hal yang sama. Semua itu merupakan gerakan dan berasal dari tempat yang sama, bersumber dari sembilan orang yang sama. Hal yang paling membedakan hanyalah bagaimana cara setiap orang bergerak.” Selain itu, ditambahkan oleh komentar Adit Roar yang sempat mendapatkan sumber dari Laurent yang telah menjelaskan pengembangan dari disiplin tersebut. “Waktu umur 16 tahun, lahirlah ADD ( L’art du deplacement). Setelah lebih matang dan mulai beda pemikiran antara art yg mereka kembangkan, barulah mereka memutuskan untuk mengembangkan apa yg mereka percaya dalam diri mereka. Dan untuk membedakannya satu sama lain, mereka berniat menamainya. Disinilah sebuah bagian dimana David memilih Parkour dan Foucan memilih free running. Mereka berdua mengerti satu sama lain, karena mereka mengetahui apa rasanya menjalankan apa yang mereka yakini. Dan itu tidak bisa dirubah”.

Bila memperhatikan dengan apa yang dimaksudkan oleh Laurent, bahwa “yang membedakan bagaimana cara setiap orang bergerak”, maka hal inilah yang akhirnya membedakan beberapa disiplin tersebut. Parkour lebih mengutamakan gerakan yang efisien yang berarti “tidak buang-buang tenaga”. Hal tersebut yang ingin dipertahankan oleh David Belle untuk prinsip Parkour. Seperti yang dikatakannya “parkour merupakan sebuah seni yang dapat menolong kamu melewati berbagai rintangan dari titik A ke titik B hanya dengan menggunakan kemungkinan (kekuatan) tubuh manusia. Pahami bahwa seni ini diciptakan oleh beberapa tentara di Vietnam untuk melarikan diri atau mencapai suatu tujuan: semangat inilah yang saya inginkan tetap berada pada parkour. Kamu harus dapat membedakan antara yang penting dan tidak penting dalam situasi darurat/bahaya. Kemudian kamu akan mengetahui apakah itu parkour atau bukan. Jika kamu melakukan gerakan akrobatik di jalanan tanpa ada tujuan jelas atau hanya sekedar untuk unjuk (pamer) kemampuan, mohon jangan anggap atau katakan bahwa itu adalah parkour. Akrobatik sudah ada jauh sebelum parkour”. Parkour memiliki filosofi untuk bergerak menuju tujuan dengan melewati rintangan dengan gerakan yang efektif dan efisien sehingga prinsip ini dapat digunakan untuk melewati rintangan di rute kehidupan yang dilalui. Setiap traceur bergerak secara nyaman dan mementingkan efisiensi untuk cepat sampai di tujuan.

Sedangkan Sebastian menerapkan sebuah konsep yang menarik untuk Free Running dan setiap praktisi yang menjalani. “Freerunning adalah sebuah evolusi. Bergerak seperti binatang. Bergerak mengalir bagaikan air atau menemukan keseimbanganmu sendiri dengan sebuah filosofi yang benar. Ini adalah bagian dari Free runner. Fokuslah dengan apa yang ada di dalam dirimu melebihi yang ada di luar sana”. Free running lebih bersikap individu yang bergerak untuk menujukkan yang namanya “Kebebasan Bergerak”. Sebastian memberikan filosofi yang berbeda dengan parkour. Bila di Parkour memiliki prinsip bergerak secara nyaman dan mementingkan efisiensi untuk cepat sampai di tujuan, maka Sebastian memiliki pemikiran yang berbeda. Baginya, bukan bagaimana cara cepat sampai di tempat tujuan, yang terpenting baginya adalah bagaimana proses mencapai tujuan tersebut. Maka disinilah Freerunning bergerak tanpa ada point a dan point b. Bergerak sesuka hati dengan gerakan yang enak untuk dilihat dan lebih spektakular. “Untuk apa hanya melompat ke depan kalau bisa melompat dengan cara yang lebih indah dan menarik”.

Disinilah terlihat apa yang membedakan dari setiap masing-masing nama disiplin tersebut. Semua tertuju pada satu sumber, namun dengan pengembangan pemikiran seiring dengan cara berpikir masing-masing founder.

Sebuah Keputusan dan Kesimpulan
Apa yang bisa saya ambil dari semua ini? Apa yang bisa diambil dan diserap oleh semua prkatisi yang membaca note ini? Argumen berkepanjangan antara masing-masing disiplin justru yang akan membuat otak, hati dan tubuh kita tertahan untuk tidak berlatih. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Dan Edwardes dari Parkour Generation. Sibuk memperdebatkan mana yang benar dan mana yang salah membuat kita tidak mau menghormati sistem latihan kita masing-masing dan menghormati sistem latihan disiplin lainnya. Yang penting adalah, kita semua harus bisa menempatkan diri sesuai yang kita pahami.

Bila anda tertarik dan merasa nyaman dengan Art Du Deplacement dan metodenya, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip dan metode yang diterapkan. Bila anda tertarik dan merasa nyaman dengan Parkour dan metodenya, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip dan metode yang diterapkan. Begitu pula dengan Free Running. Merasa lebih nyaman dengan Free Running, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip, filosofi dan metode yang diterapkan.

Disini saya berbicara sebagai praktisi yang memilih Parkour sebagai disiplin karena saya bergabung dengan “Forum Parkour Indonesia”. Maka metode serta filosofi yang saya ambil dan saya latih adalah parkour. Begitu pula dengan anda yang merasa membawa nama parkour di keseharian ada mulai dari bergabung dengan parkour Indonesia serta memakai pernak-pernik parkour, maka berlatihlah parkour dengan baik sesuai dengan metode yang diterapkan dalam sebuah komunitas di mana anda berada. Semua metode latihan di setiap daerah tentunya sangat berbeda, namun mempunyai disiplin yang sama yang sesuai dengan metode latihan yang sesungguhnya.

Namun bila ada yang tertarik dengan dua bentuk latihan lainnya seperti Art Du Deplacement dan Free Running, maka bentuklah kepribadian dirimu sesuai dengan disiplin yang kamu pilih dan terapkan filosofinya dalam kehidupan. Kita akan berlatih bersama dan saling mendukung dan menghormati satu sama lain tanpa melukai masing-masing disiplin. Karena tiga nama yang terlampir disini merupakan memiliki satu akar yang sama dari tempat dan sumber yang sama.

Fadly Bullseye

Sumber :
Wikipedia

Art Du Depalcement
http://www.majesticforce.com

Sebastian Foucan – Freerunning Ambassador
http://www.foucan.com/?page_id=65

David Belle Parkour Official Blog
http://www.sportmediaconcept.com/parkour

David Belle and Parkour World Association
http://web.archive.org/web/200505080214 … lcome.html
http://www.parkourgeneration.com

Artikel di ambil dari http://www.parkourindonesia.web.id

Read More ..